Sistem Peringatan Dini Karhutla Didorong Diperkuat Berbasis Teknologi

Riau – Berulangnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendorong perlunya penguatan strategi pencegahan melalui pemanfaatan teknologi dan kolaborasi lintas sektor.
Pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan mendorong tidak hanya mengandalkan pemadaman ketika kebakaran terjadi, tetapi juga memperkuat sistem peringatan dini (early warning system) untuk mendeteksi potensi kebakaran sejak awal.
Pendekatan ini penting guna mempercepat penanganan titik api, menekan luas area terdampak, serta melindungi masyarakat dan lingkungan dari dampak karhutla.
Akademisi Universitas Islam Riau (UIR), Sri Wahyuni Kadir Abbas, menilai pemanfaatan teknologi menjadi salah satu aspek penting dalam meningkatkan efektivitas pengendalian karhutla.
Menurutnya, sistem peringatan dini perlu dikembangkan agar potensi kebakaran dapat teridentifikasi lebih cepat dan diikuti respons lapangan yang terkoordinasi.
“Lewat pendekatan teknologi, perlu dibangun respons cepat dalam menangani ancaman karhutla,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi pentahelix yang melibatkan pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, media, dan dunia usaha. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk memperkuat edukasi, pemantauan kawasan rawan, serta mobilisasi sumber daya ketika muncul indikasi kebakaran.
“Yang jelas perlu sinergi pentahelix untuk mencegah terjadinya karhutla. Pemerintah bersama masyarakat, kampus, media dan stakeholder lainnya harus bersama-sama mengatasi masalah ini,” tambahnya
Sementara itu, Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Dasrul Chaniago, menjelaskan bahwa langkah pencegahan telah dipersiapkan sebelum memasuki musim kebakaran 2026. Namun, kondisi cuaca ekstrem menjadi tantangan tersendiri dalam pengendalian karhutla di lapangan.
“Musim kemarau yang lebih kering, suhu tinggi, kelembapan rendah dan angin kencang membuat vegetasi lebih mudah terbakar dan api lebih cepat menyebar,” ujar Dasrul.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa strategi pengendalian membutuhkan kesiapsiagaan yang lebih terukur, mulai dari pemantauan titik rawan, pengelolaan lahan gambut, hingga percepatan pengerahan petugas. Penguatan teknologi pemantauan dan koordinasi antarlembaga juga perlu diikuti edukasi masyarakat agar pencegahan berjalan efektif.
Dengan demikian, komitmen bersama dan sistem peringatan dini yang responsif diharapkan mampu menekan risiko karhutla secara berkelanjutan serta meminimalkan dampaknya terhadap kesehatan, aktivitas ekonomi, dan kelestarian lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *