Oleh : Abdul Razak)*
Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan sejak dini kini semakin menjadi perhatian pemerintah. Perubahan pola hidup modern yang cenderung minim aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, hingga tingginya tingkat stres menjadi faktor utama meningkatnya kasus penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung. Kondisi tersebut membuat langkah promotif dan preventif menjadi sangat penting agar masyarakat tidak hanya berobat saat sakit, tetapi juga aktif melakukan deteksi dini terhadap risiko penyakit kronis.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan terus menggalakkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai salah satu strategi nasional untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin. Program ini dinilai menjadi langkah konkret dalam membangun budaya hidup sehat sekaligus menekan angka penyakit kronis yang selama ini menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.
Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa paradigma masyarakat mengenai kesehatan harus mulai berubah. Menurutnya, kesehatan tidak cukup hanya diobati ketika penyakit sudah muncul, tetapi harus dijaga melalui upaya deteksi dini yang berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan saat meninjau pelaksanaan Program CKG bagi mitra pengemudi Gojek di kantor GoTo Group Bandung, Jawa Barat. Program kolaborasi antara Kementerian Kesehatan dan Gojek tersebut menyasar 17 kota di Indonesia sepanjang Februari hingga Desember 2026.
Dante mengatakan kolaborasi dengan sektor swasta menjadi langkah penting untuk menghadirkan layanan kesehatan lebih dekat kepada masyarakat, terutama kelompok pekerja dengan mobilitas tinggi seperti pengemudi transportasi daring. Menurutnya, pemeriksaan rutin sangat penting untuk mendeteksi faktor risiko penyakit tidak menular sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Program CKG komunitas GoTo sendiri telah berjalan sejak 2025. Hingga April 2026, sebanyak 1.141 peserta telah mendapatkan layanan di Jakarta dan Palembang. Pada Mei 2026, program diperluas ke Bandung, Semarang, Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya dengan target mencapai 4.000 peserta.
Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh layanan pemeriksaan kesehatan yang cukup komprehensif. Mulai dari pemeriksaan fisik, tekanan darah, gula darah, profil lipid, pemeriksaan mata, gigi, telinga, hingga layanan EKG bagi peserta dengan faktor risiko tertentu. Pemeriksaan kesehatan perempuan seperti SADANIS juga diberikan, disertai konsultasi dokter serta pemberian obat bagi penderita diabetes dan hipertensi.
Langkah tindak lanjut juga dilakukan secara terintegrasi. Peserta yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dirujuk ke puskesmas atau fasilitas kesehatan tingkat pertama sesuai kepesertaan BPJS Kesehatan. Sementara peserta dengan kategori hijau mendapatkan edukasi pola hidup sehat, sedangkan kategori kuning dan merah langsung memperoleh tindakan medis secara gratis.
VP Public Policy & Government Relation GoTo Group, Rangga D. Fadillah, menyatakan bahwa kesehatan mitra pengemudi menjadi prioritas perusahaan karena mereka merupakan garda terdepan dalam ekosistem layanan transportasi digital. Ia menilai pengemudi yang sehat akan lebih fokus saat bekerja sehingga dapat meningkatkan keselamatan bagi penumpang maupun pengguna jalan lainnya.
Menurut Rangga, deteksi dini melalui Program CKG mampu meminimalkan risiko gangguan kesehatan mendadak saat para pengemudi menjalankan tugas di lapangan. Oleh karena itu, program pemeriksaan kesehatan gratis tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga berkontribusi terhadap keselamatan publik secara luas.
Komitmen pemerintah memperluas jangkauan Program CKG juga terlihat dari target nasional yang cukup besar. Kementerian Kesehatan menargetkan program tersebut dapat menjangkau 130 juta masyarakat Indonesia sepanjang 2026. Target ambisius tersebut menunjukkan bahwa pemerintah menempatkan upaya promotif dan preventif sebagai prioritas utama pembangunan kesehatan nasional.
Di daerah, dukungan terhadap Program CKG juga terus diperkuat. Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, Bali, misalnya, terus mengintensifkan percepatan program melalui pertemuan evaluasi lintas sektor dan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Sucipto, menyampaikan bahwa capaian absolut Program CKG di Buleleng menjadi yang tertinggi di Bali karena jumlah penduduknya paling besar.
Meski demikian, jika dibandingkan dengan target persentase nasional, Buleleng masih berada di posisi ketiga di Bali. Hingga pertengahan Mei 2026, capaian Program CKG di Buleleng tercatat sekitar 12,4 persen, sementara target nasional tahun 2026 mencapai 46 persen.
Untuk mengejar target tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng terus mendorong sinergi seluruh puskesmas, koordinator CKG, camat, dan organisasi perangkat daerah agar pelaksanaan program semakin optimal dan mampu menjangkau lebih banyak masyarakat. Evaluasi tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kesehatan sehingga kualitas kesehatan masyarakat semakin meningkat.
Hal serupa juga dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Banten. Pemerintah daerah setempat menargetkan realisasi Program CKG tertinggi di Provinsi Banten pada 2026 setelah sebelumnya berhasil meraih peringkat kedua pada 2025.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Eka Darmana Putra, mengatakan pihaknya terus mengoptimalkan pelaksanaan CKG di berbagai sektor, mulai dari lingkungan OPD, Polri, TNI, sekolah, perguruan tinggi, pondok pesantren, hingga kegiatan masyarakat lainnya. Pelayanan juga dilakukan melalui 44 puskesmas yang aktif turun langsung ke permukiman warga.
Pada 2025, realisasi Program CKG di Lebak mencapai 490 ribu jiwa atau sekitar 32 persen dari total 1,5 juta penduduk. Capaian tersebut menjadi modal penting untuk meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat pada tahun ini.
Petugas Puskesmas Rangkasbitung, dr. Emir, mengungkapkan bahwa sebagian besar peserta pemeriksaan mengalami hipertensi dan diabetes melitus. Kondisi itu menunjukkan bahwa penyakit kronis masih menjadi ancaman serius di tengah masyarakat.
Karena itu, Program CKG dinilai sangat penting untuk mendeteksi faktor risiko kesehatan sejak awal, termasuk hipertensi, gangguan gula darah, penyakit paru-paru, kesehatan jiwa, hingga obesitas sentral. Dengan deteksi dini, masyarakat dapat segera memperoleh penanganan sebelum penyakit berkembang menjadi kondisi akut yang lebih berbahaya.
Melalui Program CKG, pemerintah tidak hanya menghadirkan layanan kesehatan gratis, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga kesehatan merupakan investasi jangka panjang. Upaya pencegahan penyakit kronis melalui pemeriksaan rutin menjadi langkah strategis untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang lebih sehat, produktif, dan berkualitas di masa depan.
)* Analis Kebijakan
