JAKARTA – Upaya pemerintah dalam memperkuat kualitas kesehatan pelajar melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terus menunjukkan hasil positif. Program yang menjadi bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto ini tidak hanya meningkatkan kesadaran kesehatan, tetapi juga memperkuat deteksi dini berbagai penyakit pada anak usia sekolah.
Implementasi CKG di berbagai daerah memperlihatkan dampak nyata. Di Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Sempaja, Samarinda, misalnya, program ini mampu mengidentifikasi sejumlah masalah kesehatan yang sebelumnya tidak terdeteksi.
Wakil Kepala Sekolah, Yunita Ainur Rizkiah, mengungkapkan bahwa dalam pelaksanaan CKG ditemukan beberapa siswa yang memerlukan penanganan lanjutan.
“Telah terdapat beberapa anak yang dirujuk, misalnya karena karies gigi, gigi berlubang, hingga batuk yang sudah berlangsung beberapa hari,” ujarnya.
Menurut Yunita, kehadiran program ini juga mendorong perubahan perilaku siswa. Mereka menjadi lebih peduli terhadap kondisi kesehatan dan tidak ragu melaporkan keluhan sejak dini.
“Para siswa kini lebih peduli dengan kondisi tubuhnya. Sedikit-sedikit mereka melapor, misalnya sakit perut atau batuk pilek,” ucapnya.
Dari sisi layanan, seluruh siswa telah terintegrasi dengan BPJS Kesehatan sehingga memudahkan proses rujukan dan pengobatan. Hal ini memperkuat efektivitas program dalam menjamin akses layanan kesehatan yang merata.
Penguatan CKG juga dilakukan di berbagai daerah lainnya. Di Kabupaten Landak, Dinas Kesehatan setempat mengimbau orang tua agar segera menindaklanjuti hasil pemeriksaan kesehatan anak. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Landak, Subanri, menegaskan pentingnya langkah tersebut untuk mencegah penyakit berkembang menjadi lebih serius.
“Kalau misalnya ada ditemukan penyakit-penyakit kronis pada anak tolong diajukan untuk dibawa ke rumah sakit atau puskesmas untuk ditindaklanjuti. Itulah fungsinya CKG itu,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa cakupan program tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga anak yang belum atau tidak bersekolah.
“Kalau anak-anak sekolah agak gampang kita. Tapi kalau anak-anak yang tidak bersekolah diharapkan orang tua memastikan anak-anak juga melakukan CKG,” tuturnya.
Selain kesehatan fisik, CKG juga memperluas cakupan deteksi pada aspek kesehatan mental. Di Kabupaten Trenggalek, hasil skrining menunjukkan adanya gejala kecemasan dan depresi pada sebagian pelajar. Kepala Diskesdalduk Trenggalek, dr. Sunarto, menyampaikan bahwa temuan tersebut menjadi perhatian penting dalam upaya perlindungan kesehatan anak.
“Sementara untuk depresi, ditemukan gejala depresi ringan sebesar 0,81 persen dan depresi berat 0,35 persen,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa berbagai faktor seperti biologis, psikologis, dan lingkungan menjadi penyebab munculnya gangguan tersebut. Namun demikian, kondisi ini masih dapat ditangani dengan dukungan yang tepat.
“Dengan penanganan yang tepat dan dukungan keluarga, gejala tersebut bisa disembuhkan,” tegasnya.
Secara nasional, Kementerian Kesehatan juga mencatat bahwa sekitar 10 persen anak Indonesia menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa berdasarkan hasil skrining CKG periode 2025–2026. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut angka tersebut sebagai sinyal penting bagi semua pihak.
“Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali,” ujarnya.
Pemerintah pun terus memperluas cakupan skrining serta memperkuat kolaborasi lintas sektor guna memastikan setiap anak mendapatkan penanganan yang tepat. Dengan sistem deteksi dini yang semakin optimal, program CKG diharapkan mampu menciptakan generasi yang lebih sehat, baik secara fisik maupun mental, sehingga mendukung proses belajar yang lebih maksimal dan berkelanjutan.
(*/rls)
